Nobar linimassa di Banda Aceh / Foto Alfath Asmunda (@alfaaaath)
Nobar linimassa di Banda Aceh / Foto Alfath Asmunda (@alfaaaath)

Hujan masih saja terus membahasi tanah Kutaraja, suasana jalanan pun sempat lenggang dari banyaknya kendaraan. Bertempat di Haba Cafe Lampriet, sebuah warung kopi yang tepat berada di pinggiran jalan protokol ini pun sekira pukul 19.30 WIB mulai terlihat pengunjung, diantara mereka juga terlihat anak-anak.

Satu per satu posisi pengunjung pun mulai menghadap ke sebuah layar putih yang telah siap untuk ditembakkan infocus dengan sebuah film yang bertajuk Linimassa 3. Ya, sesuai dengan rencana, Jum’at (29/11/2013) malam menjadi agenda dari Aceh Blogger Community (ABC) untuk menayangkan screening sejumlah film yang memaparkan sejumlah kejadian sosial lewat mengadopsi jejaring sosial dan internet sebagai bagian problematika kehidupan manusia.

Beberapa bait puisi pun dibacakan oleh Muhadzier Sald ditengah rintik hujan malam itu. Fairuz Humam bertindak sebagai MC pun mulai mengambil alih, pertanda acara inti akan segera di mulai, tidak ketinggalan sedikit kata-kata pembuka dari perwakilan ABC Muda Bentara pun diberikan, sebagai hiburan bocah berumur 7 tahun, Nazilla yang mengidap thalassemia juga hadir usai tranfusi darah bersama Komunitas Darah Untuk Aceh (DUA) dengan menyanyikan lagu untuk menghangatkan suasana bersama Olni.

Film Terpenjara di Udara pun menjadi pembuka nonton bareng ini, film hasil riset ini menggambarkan tentang penyalahgunaan frekuensi radio/televisi oleh para pemilik media besar. Frekuensi yang sejatinya adalah milik publik, alih-alih digunakan untuk melayani hak masyarakat atas informasi yang berkualitas, justru dipakai oleh pemilik media untuk kepentingan bisnis maupun politik. Informasi yang kemudian disodorkan kepada masyarakat, lantas menjadi homogen.

Dalam kesempatan tersebut juga hadir beberapa punggawa ICT Watch dan tamu dari Jakarta, seperti @donnybu, @mataharitimoer, @frenavit, tak ketinggalan sutradara film dari DUA yang berjudul “Setetes Darah Setitik Harapan” @yayanzy bersama foundernya @nuu244 dan anak-anak thalers. Ada juga sejumlah blogger Aceh seperti @tengku_muda @Fatheeya dan masih banyak lainnya.

Menilik dari inti film yang diangkat oleh DUA, mengenai tentang inisiasi kehadiran perkumpulan orang tua asuh (pendonor darah) bagi penyandang Thalassemia di Aceh, kisah mereka mensosialiasikan kepentingan darah bagi thalers dengan sejumlah kendala di lapangan hingga sampai melahirkan program #10for1Thalassemia.

“Kebanyakan dari masyarakat kita takut mendonorkan darahnya dengan alasan karena takut jarum suntik. Padahal kita punya pilihan untuk takut jarum dan tidak mendonor atau mendonor, tapi apakah si penderita Thalassemia punya pilihan jika kita tidak mendonor? Tentu tidak. Karena itu marilah sama-sama kita donor darah untuk adik-adik kita yang menderita Thalassemia di Aceh,” sebut Nurjannah dalam sesi diskusi.

Lain lagi dengan Yayan dengan gayanya sambil tersenyum menyebutkan, “untuk jadi calon menantu yg baik, jadilah pendonor yang baik.”

Jadi, sudah siap untuk jadi pendonor darah bagi thalers? dan jadilah bagian dari #10for1Thalassemia atau hubungi @DarahUntukAceh.

Inilah beberapa dokumentasi acara dari nonton bareng Linimassa 3 di Banda Aceh.

Terima kasih untuk semua pihak yang telah ikut menyukseskan nonton dan diskusi film dokumenter Linimassa 3 dan Terpenjara di Udara, serta kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan media partner serta orang-orang yang tidak mungkin tersebut satu per satu.

Dilanda Hujan, Nonton Bareng Linimassa 3 di Aceh Berjalan Lancar
Tagged on:                     

Leave a Reply