mesjid indrapuri tempo duluKetika menyebutkan nama Aceh, maka yang terlintas di pikiran adalah nuansa keislaman masyarakatnya yang sangat kental dari masa ke masa. Aceh adalah provinsi paling barat Indonesia yang pertama sekali mendapatkan pengaruh Islam. Salah satu buktinya dapat dilihat pada peninggalan bersejarah berupa mesjid-mesjid tuha (kuno) yang tersebar di beragai penjuru.

Bagi masyarakat Aceh, mesjid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja. Sejak zaman Kerajaan Samudra Pasai, masa penjajahan, dan sampai sekarang rumah Allah itu juga menjadi tempat kegiatan sosial termasuk pendidikan dan juga sebagai pusat kebudayaan. Namun sayangnya, banyak mesjid tuha tersebut menjadi rusak dan tidak terawat. Menyedihkannya lagi, banyak generasi muda Aceh yang tidak tahu tentang mesjid nan bersejarah itu.

“Untuk itu, melalui kegiatan Jelajah Budaya 2013 ini, Pemerintah Aceh melalui Disbudpar mengundang komunitas-komunitas anak muda dengan berbagai latar belakang untuk mengenali warisan budaya khususnya yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Dengan harapan, komunitas ini dapat menjadi perpanjangan tangan kami untuk terus menggugah dan membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bukti sejarah,” tutur Evi Mayasari mewakili Bidang Adat dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh (Disbudpar).

Maka di penghujung bulan Mei 2013 ini, Disbudpar mengajak para generasi muda dari berbagai komunitas yang ada di Banda Aceh untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pemahaman budaya secara mendalam. Di antaranya adalah memperkenalkan kembali mesjid-mesjid tuha nan bersejarah yang ada di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar seperti Mesjid Raya Baiturrahman, Mesjid Baiturrahim, Mesjid Tuha Ulee Kareng, dan Mesjid Tuha Indrapuri.

Mesjid Raya Baiturrahman, Dua kali terbakar

Sejak dulu, tidak sempurna rasanya jika ke Banda Aceh tapi belum ke Mesjid Raya Baiturrahman. Bukti nyata bahwa seseorang sudah ke sana dapat dilihat dari adanya foto yang berpose di depan mesjid kebanggan rakyat Aceh. Dan sampai sekarang, kendati telah muncul beragam objek wisata, Mesjid Raya Baiturrahman tetap menjadi ikon Kota Banda Aceh.

Mesjid yang berdiri megah dengan tujuh kubah ini memiliki lembaran sejarah tersendiri. Siapa sangka, salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis dengan ukiran yang menarik tersebut pernah terbakar dua kali. Menurut penjelasan Laila Abdul Jalil, arkeolog yang saat ini bertugas di Disbudpar Aceh, bangunan mesjid ini terbakar pada masa pemerintahan Putri Nur ul-Alam (1675-1678). Menurut Kronik Melayu, istana Sultan pun ikut musnah ditelan api bersamaan dengan mesjid. Beruntungnya, gambaran tentang bentuk mesjid yang dibuat oleh Peter Mundy ketika singgah di Aceh pada tahun 1673 masih tersimpan. Berdasarkan sketsa tersebut, mesjid dibangun kembali pada tempat yang sama.

Baiturrahman bukanlah mesjid yang pertama sekali di bangun di Aceh. Sultan Iskandar Muda nan taat beragama membangun sejumlah mesjid pada masa pemerintahannya (1607-1636). Namun, Mesjid Baiturrahman adalah mesjid yang ditemukan Belanda saat pertama kali tiba ke Kuta Raja.

“Bangunan Mesjid Beiturrahman pada masa itu bentuknya khas seperti bujur sangkar, dikelilingi oleh tembok bergerigi dengan atap bersusun empat. Mirip seperti Pagoda,” begitu jelas Laila.

Pada Januari 1874, ketika Mesjid Raya Baiturrahman berhasil ditaklukkan Belanda dari pejuang Aceh, mereka membakar mesjid tersebut. Dalam agresi itu,  Jenderal J.H.R Khohler tewas tertembak di bawah pohon geuleumpang yang terletak di sebelah utara mesjid. Belanda pun menyebut pohon tersebut dengan Kohler Boom dan di bawahnya dibangun sebuah monument kecil untuk mengabadikan tewasnya panglima perang mereka.

“Alasan Belanda membakar mesjid adalah karena mereka menganggap kalau Mesjid Raya adalah benteng pertahanan pasukan Aceh. Jadi, mereka berpikir, dengan mengusai mesjid maka Aceh pun bisa dikuasai,” tambah perempuan yang menjadi pemandu kami dalam city tour Jelajah Budaya ini.

Namun kenyataannya, pembakaran mesjid justru mengundang amarah rakyat Aceh. Perlawanan terhadap Belanda semakin gencar dilakukan. Untuk meredam serangan yang dilancarkan oleh pejuang Aceh, Gubernur Belanda Jenderal J. Van Swieten berjanji akan membangun kembali Mesjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu.

Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman terbakar, pada pertengahan shafar 1294 H/Maret 1877 M, dengan mengulangi janji Jenderal Van Sweiten, Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar. Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala negeri sekitar Banda Aceh.

Janji tersebut dilaksanakan oleh Jenderal Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Pada Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 M, peletakan batu pertamanya diwakili oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Masjid Raya Baiturrahman ini siap dibangun kembali pada tahun 1299 Hijriyah dengan satu buah kubah.

Seiring perkembangan zaman, mesjid yang terletak di jantung kota Banda Aceh ini terus berbenah. Kubah yang dulunya hanya satu bertambah menjadi lima pada masa pemerintahan Gubernur Ali Hasjmy, dan menjadi tujuh di pemerintahan Ibrahim Hasan. Fungsi mesjid yang tidak hanya sebagai tempat ibadah juga semakin ditingkatkan yang ditandai dengan adanya ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula, dan enam lokal sekolah.

Mesjid Baiturrahim; Saksi Bisu Kolonialisme dan Dua Babak Bencana

Setelah berkenalan lebih intim dengan Baiturrahman, kami lalu melakukan perjalanan ke Mesjid Baiturrahim. Mesjid ini awalnya bernama Mesjid Jami’ Ulee Lheu (Belanda menyebutnya dengan Mesjid Jami’ Olele), tetapi namanya berubah menjadi Baiturrahim ketika Mesjid Raya Baiturrahman terbakar dan rakyat Aceh melaksanakan shalat jumat di mesjid ini.

Mesjid yang pernah roboh pada gempa dahsyat tahun 1983 silam juga merupakan satu-satunya bangunan yang tersisa ketika gempa dan gelombang tsunami meluluhlantakkan seluruh bangunan lain yang ada di Ulee Lheu. Mesjid ini tidak hanya menjadi saksi dua babak musibah di Aceh, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Aceh dari masa kesultanan, penjajahan Belanda dan Jepang, hingga era kemerdekaan.

Mesjid Baiturrahim terletak di Pantai Cermin (Pante Ceureumen), Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Jika mendengar Pantai Cermin, maka bayangan pertama sekali Belanda melakukan ekspedisi ke Aceh kembali hadir. Melalui pantai ini lah Belanda datang dan mendirikan dermaga sebagai pintu gerbang ke Aceh pada tahun 1874. Lalu mereka membangun rel kereta api sebagai jalan darat untuk menghubungkan Ulee Lheu dengan Banda Aceh. Stasiun kereta api ini terletak di depan Mesjid Raya Baiturrahman.

Baiturahim dibangun pada abad ke 17. Pembangunan mesjid ini ditenggarai sebagai bukti penyerahan dan persahabatan yang dilakukan oleh dua ulee balang yang memimpin daerah Meuraksa pada saat itu dengan Belanda. Mereka adalah Teuku Ne’ Raja Muda Seutia dan Teuku Lam Paseh. Pembangunan mesjid ini menjadi lambang kekuasaan Belanda atas daerah itu.

Mesjid yang pada awalnya terbuat dari kayu ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Pada tahun 1922, Pemerintah Hindia Belanda membangun Mesjid Baiturrahim dengan material permanen bergaya arsitektur Eropa dan berkaligrafi ejaan Arab Jawi. Namun, mesjid ini tidak berkubah layaknya mesjid lainnya. Hanya ada sebuah puncak di mesjid yang berbentuk persegi. Lalu pada tahun 1930, selasar mesjid terpaksa diubah karena bentuknya menyerupai gereja.

Pada tahun 1993, tepat setelah sepuluh tahun Aceh diguncang gempa, renovasi besar-besaran dilakukan pada Mesjid Baiturrahim. Bangunan asli mesjid pasca gempa hanya tersisa pada bagian depannya saja dan masih terlihat kokoh sampai sekarang.

Mesjid Tuha Ulee Kareng yang Tak Terawat

Setelah menikmati indahnya arsitektur Belanda pada teras Mesjid Baiturrahim, kami kemudian melakukan perjalanan ke Mesjid Tuha Ulee Kareng yang terletak di Jalan Mesjid Tuha, Ie Masen, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh. Sayangnya, keindahan Mesjid Baiturrahman dan Baiturrahim ternyata tidak berlaku untuk mesjid tuha ini.

Mesjid itu tampak begitu tua seperti namanya. Tidak hanya tuha dan dimakan usia, mesjid ini juga tidak terawat. Padahal, menurut Laila Abdul Jalil, mesjid ini patut dipugar menjadi cagar budaya mengingat usia dan sejarah yang dimilikinya.

Kondisi di dalam mesjid yang tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah karena daya tampungnya yang minim juga sangat menyedihkan. Kotoran binatang dan sampah plastik bertebaran di mana-mana. Meskipun demikian, konstruksi dan arsitektur mesjid kuno Nusantara masih terlihat di sana. Atap tumpang yang merupakan kekhasan mesjid kuno masih terdapat di Mesjid Tuha Ulee Kareng. Namun, karena ukurannya yang tidak terlalu besar, atap dari mesjid yang dibangun oleh Sayyid al- Malahhi pada abad ke 18 itu hanya bersusun dua atau dikenal dengan istilah atap rundeng. Pada balok-balok kayu penyangga atap juga masih terlihat ornament flora dan sulur-suluran sebagai asumsi bahwa daerah Lamreng merupakan daerah yang subur dan rindang.

Mesjid Indrapuri, Modernitas yang Bukan pada Tempatnya

Hari terakhir jelajah budaya, kami melakukan city tour ke Mesjid Tuha Indrapuri. Meski belum pernah berkunjung ke sana, mesjid yang pernah digunakan sebagai tempat penobatan Sultan Aceh yakni Tuanku Muhammad Daudsyah pada tahun 1978 sudah sangat familiar di telinga saya. Namun, bayangan akan mesjid yang berdiri megah dan kokoh yang dibangun pada masa Iskandar Muda di atas candi peninggalan kerajaan Hindu berabad-abad silam sirna ketika melihat aslinya.

Ketika kaki memasuki gerbang mesjid tuha itu, tampak dinding tembok yang tebal dan berundak-undak dengan tinggi sekitar dua meter. Setiap undakan merupakan halaman atau pelataran. Setiap pelataran ukurannya tidak sama. Semakin ke atas. ukuran pelataran semakin kecil. Warna krem yang membaluti dinding mulai mengelupas. Lumut terlihat menempel di sana. Bentuk luarnya mirip dengan lingkar luar candi.

Mesjid Indrapuri Bagian Depan
Mesjid Indrapuri Bagian Depan

“Ya,  ada yang menyatakan kalau mesjid ini dulunya merupakan benteng pertahanan melawan Belanda pada masa Sultan Iskandar Muda dan ada yang menyatakan kalau dulunya mesjid ini adalah candi. Dari segi bangunannya mirip memang mirip candi. Pada halaman depan yang paling bawah merupakan tempat rakyat biasa, lalu ke atasnya adalah tempat para raja, dan bagian dalam merupakan tempat para pendeta. Saya juga melihat adanya bekas tangga pada sudut utara mesjid ini. Mungkin di sinilah kita bisa melihat adanya kesinambungan antara bangunan Hindu yang kemudian diadopsi oleh budaya Islam,” jelas Laila.

Di atas tembok pertama terdapat kolam yang berisi air, begitu pula pada tembok ke dua. Lalu setelah tembok kedua  tampak bangunan berkonstruksi kayu dengan atap bersusun tiga. Semakin ke atas, bentuk dan ukuran atap semakin kecil. Bangunan inilah yang merupakan Mesjid Tuha Indrapuri. Menurut pemaparan Laila, bentuk atap yang bertingkat juga merupakan adopsi dari budaya Hindu. Masyarakat Hindu menyebutkan bangunan suci dengan atap bertingkat ini dengan Meru. Pengadopsian atap bangunan Meru menjadi atap mesjid menunjukkan bahwa Islam dibawa ke Aceh dengan jalan damai.

Sayangnya, meski telah dipugar menjadi peninggalan purbakala, keaslian Mesjid Tuha Indrapuri ini telah ternoda oleh modernitas yang bukan pada tempatnya. Lantai yang dulunya terbuat dari ubin kini berganti dengan marmer yang bentuknya sangat berbeda dari aslinya. “Pemerintah di Aceh yang bertanggung jawab untuk pelestarian cagar budaya seperti ini seakan tidak punya gigi. Harusnya mereka tidak mengizinkan lantai mesjid ini dipasang marmer,” sesal arkeolog yang memandu kami selama tiga hari melakukan penjelajahan.

Menurut Laila, atap yang dulunya berwarna hijau juga sudah diubah menjadi warna merah. Padahal, Mesjid Tuha Indrapuri merupakan cagar budaya yang aturannya tidak boleh diubah, baik bahan, bentuk, maupun warnanya.

Setelah berkenalan dengan ke empat mesjid tuha nan bersejarah di Aceh, maka semakin terbuka mata saya akan pentingnya mengenali budaya bangsa. Tak kenal maka tak sayang. Karena tak sayang maka takkan ada pelestarian. Jadi, mari kita semakin mengenali tempat-tempat bersejarah agar rasa cinta terhadap tanah air semakin berkembang dan kelak rasa cinta dan pelestarian kebudayaan yang kita lakukan dapat kita bagi untuk generasi selanjutnya.

Berkenalan dengan Mesjid Tuha Aceh nan Bersejarah
Tagged on:                         

5 thoughts on “Berkenalan dengan Mesjid Tuha Aceh nan Bersejarah

  • June 15, 2013 at 11:06
    Permalink

    Bagi masyarakat Aceh, mesjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja. Sejak zaman Kerajaan Samudra Pasai, masa penjajahan, dan sampai sekarang rumah Allah itu juga menjadi tempat kegiatan sosial termasuk pendidikan dan juga sebagai pusat kebudayaan. Salah satu tulisan dari Liza Fathiani.

    Reply
  • June 24, 2013 at 06:47
    Permalink

    Trimoeng geunaseh info nyoe aceh blogger,, kayeem loen jak u banda tetapi hana lon teupeu na mesjid tuha yang bersejarah seperti mesjid indra puri

    Reply
  • July 1, 2013 at 23:27
    Permalink

    saya orang indrapuri, bagian yang di marmer memang ada, tapi hanya di bagian depan pintu masuk mesjid. ini juga di karenakan lantai asli mesjid terasa sangat panas di siang hari sehingga menyulitkan jemaah.

    oia, menurut cerita setempat, dinding mesjid ini di buat dari campuran telur ayam dan batu gunung. batu batu gunung tersebut di bawa sejauh ratusan kilometer untuk di jadikan bahan pembangunan. saya tidak tau kebenaranya, tapi sebagian besar masyarakat meyakini hal tersebut.

    Reply
  • December 23, 2014 at 16:51
    Permalink

    ane baru tahu tentang, semoga ane bisa foto2 ntar kesitu bawa camera (y)

    Reply
  • January 11, 2016 at 02:22
    Permalink

    oooh halaah.. liza toh yang nulis.. pantesan dari tadi bingung, kok bahasa dan judulnya kayak liza punya ya.. ternyata dikau penulisnya hehe

    Reply

Leave a Reply