Indahnya Berbagi di ASEAN Blogger Festival Indonesia 2013

ABFI sharing night sessionBeberapa waktu lalu ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013 baru saja berlalu, tepatnya 10-12 Mei di kota Solo, Surakarta, Jawa Tengah. Lebih dari 250 blogger di Indonesia berkumpul disana dan juga perwakilan dari negera-negara ASEAN. Ramai, seru, dan tentunya ada banyak cerita menarik selama 3 hari di kota yang punya tagline “The spirit of Java” ini.

Dibalik itu semua, ada satu hal yang ingin saya bagi dan ceritakan. Walaupun acara ABFI yang mengangkat tema “Reinventing the Spirit of Cultural Heritage in Southeast Asia” dan mengundang komunitas blogger, pastinya kisah pengalaman teman-teman blogger di komunitas itu menjadi pelajaran penting untuk diambil hikmah dan ide kreatif lainnya.

Disela-sela berlangsungnya ABFI baik dari pagi hingga sore hari, terlebih pada hari kedua berbagai pandangan blogger bisa kita jumpai. Mulai dari personal blogger sampai dengan komunitas, tidak muluk-muluk memang. Apa yang mereka bagikan itu tetap berhubungan satu sama lain, seperti aksi sosial, wisata, kuliner, bahkan sampai dengan kisah-kisah heroik yang jarang di endus media. Semua bergerak dari ketulusan hati untuk membuat yang terbaik bagi orang-orang sekitar dan masyarakat.

Semisalnya ada salah satu kisah teman blogger Maluku, orang yang selama ini saya kenal di jejaring sosial dan akhirnya bertemu dan bertatap muka disana. “Hal yang paling susah itu menyatukan komunitas, tapi pelan-pelan dengan semangat dan perbedaan yang ada kita bisa membuat lebih berwarna untuk terjun ke masyarakat,” sebut Almas yang dulu juga ikut ASEAN Blogger di Bali.

Bagaimana membuat tempat ibadah seperti masjid itu lebih aktif, bukan saja kegiatan yang bersifat religius seperti pengajian tapi juga tempat berkumpul anak-anak muda –di area masjid– untuk berekspresi dengan menulis hal-hal yang berguna dan berdiskusi dalam sebuah mimbar bebas dan dipandu oleh lintas komunias. Hal ini yang disampaikan Almas, menurut saya cukup menarik dengan keadaan di Aceh. Apalagi jika masjid punya fasilitas jaringan dan akses internet yang memadai.

Lain lagi dengan cerita Akbar, bersama komunitasnya mampu membuat gebrakan sosial untuk membantu orang-orang lain dengan membuat bank sampah yang bisa dijual. “Sampah-sampah yang kita kumpulkan dari masyarakat, kita jual dan dari uang itu kita beli Al-Qur’an untuk disumbangkan pada tempat-tempat ibadah,” sebut blogger asal Jember ini.

Selain itu dari tuan rumah blogger Solo atau yang dikenal dengan komunitas Begawan juga terus mensosialisasikan pentingnya pemanfaatan wilayah bantaran sungai bengawan yang begitu terkenal sehingga diabadikan dalam sebuah judul lagu yang diciptakan oleh (Alm) Gesang. Urban Forest begitulah istilah yang diperkenalkan, program ini untuk menyadarkan masyarakat ikut serta melestarikan bantaran sungai dengan menanam pohon sehingga kelak menjadi sebuah hutan kota dan tempat bermain masyarakat sekitar.

About the author

Mulai aktif ngeblog di WordPress.com sejak 2007, kini bergelut sesekali sebagai Wikipediawan (ace.wikipedia.org), Web Content Editor, Social Media Interest dan menyukai perkembangan dunia pembloggeran. Biasa menciak di @hack87. Happy blogging and #GoBlog in your heart :)