Lulusan IT dari Aceh (Ilustrasi dari Facebook programer.ancor)Pada hari Selasa, 12 Agustus lalu ada yang menarik di grup Facebook Aceh Blogger, salah satu dari anggota akhirnya memberikan sebuah stimulus dalam bentuk tabel seperti yang bisa Anda lihat disamping tulisan ini.

Disitu jelas sekali tertulis dengan huruf kapital, “Persentase Lulusan Prodi IT Universitas/Kampus Negeri/Swasta di Aceh” yang berhasil di-list mencapai 12 perguruan tinggi dari sejumlah daerah, baik kota/kabupaten di Aceh.

Menurut pemilik dari data (2008-2014) tersebut, sebut saja PA (tanpa saya sebutkan orang aslinya) menyebutkan bahwa, “… mahasiswa Jurusan IT cuma PALSU. Setiap Kampus selalu menyiapkan lulusan bukan Skill. Skripsi/KTI/LKP menjadi tanggung jawab Mahasiswa/i sebagai bukti bahwa keberhakannya atas Gelar nantinya, pada kenyataanya mahasiswa hanya mengambil jalan pintas untuk membuat program/aplikasi tugas akhir kepada orang lain yang mampu.”

Tak tanggung-tanggung, topik ini dari sekian banyak yang diposting di grup Facebook, bisa disebutkan, di grup ABC yang mencapai puncak perbincangan yang sangat menarik, dengan melihat beragam latar belakang mereka (blogger) sebagai pemantik yang bisa ikut menambah berbagai pandangan atau sudut pandang dalam melihat sebuah persoalan atau lebih halus saya menyebutnya dengan wacana kekinian.

Dari deskripsi dan gambaran yang diharapkan oleh PA, jelas disini terlihat sebuah harapan untuk perubahan. “Saya akan ambil sample Lulusan IT di Aceh, dengan persentase antara yang LULUS murni dengan LULUS yang bukan sendiri. Programer sendiri secara tidak langsung merusak pendidikan dan semoga juga menjadi panutan setiap kampus untuk memperbaiki baik dari segi pengajaran, dosen maupun akademik dan ikut juga tanggung jawab Yayasan maupun pemerintahan untuk memperbaiki SDM IT yang lebih baik lagi,” tulisnya distatus tersebut.

Apa Tanggapan Blogger

Ini yang paling menarik dikaji, sebut saja seperti yang diungkapkan oleh Athailah M Jamil, salah satu pengajar dari Aceh yang kini mengabdi di Universitas Batam. “Betul, sebenarnya Programer sendirilah yang merusak lulusan PT IT. Tapi kalo tidak ada yang membantu juga akan semakin banyak Mahasiswa Abadi di bidang TI di kampus,” ungkapnya yang tidak menampik fenomena yang ada tersebut.

Blogger kawakan dari Pase, Rizal Muhammad juga ikut menyumbang pengalamannya, dimana ia juga pernah terlibat menjadi salah satu orang yang membuat atau melahirkan sebuah software untuk tugas akhir mahasiswa.

Ilustrasi dari bobbyfernando.com

“Mahasiswa jih beuo2, keun salah programmer melihat dari sisi ekonomi, ada permintaan maka akan ada penyuplai, bahkan yg s3 pun suka mengolah data melalui jasa pengolahan. Lon sendiri pih pernah membuat beberapa buah software TA mahasiswa it, permasalahan utama mahasiswa nyan terlalu santai di awal semester dan mungkin emang gak ada niat mau jadi programmer (salah tameung jurusan) #begitulah kira2 kata mereka yg sering lon tanyakan pijeut hana peugot keu droe,” ujar blogger yang kini berprofesi sebagai wirausaha di seputaran Krueng Geukuh, Aceh Utara.

Saya juga tak membantahkan apa yang disebut oleh teman-teman blogger di atas, namun saya juga menghadapi dilema bahwa orang-orang yang kuliah di bidang IT, dengan spesifikasi seperti di Teknik Komputer, Teknik Informatika, Manajemen Informatika (Fakultas Teknik), Sistem Informasi dan Ilmu Komputer (Fakultas Ilmu Komputer) dan mungkin beberapa ada di rumpun sains seperti MIPA, sering beranggapan bahwa yang kuliah TI itu adalah semua harus jadi programer, walaupun pada kenyataan tidak.

Tanpa menyinggung terlalu jauh, perbedaan dari rumpun di atas saja sudah sangat terlihat, bukan tidak mungkin visi dan misi dari masing-masing fakultas bahkan hingga ke program studi (prodi) akan mempunyai perbedaan yang begitu besar alias secara umum akan berdampak juga pada pemahaman bagi si penuntut ilmu itu sendiri.

Kecendrungan saya untuk melihat dari sisi fakultas dan prodi memang mirip dengan apa yang dikemukan oleh Syahmin yang melihat dari sisi kurikulum PT yang tidak begitu update karena banyak bersumberkan pada bahan ajar berupa buku cetak.

“… Selain itu ada kecenderungan kurikulum yang tidak update (setidaknya pada tahun 2008) yang masih mempelajari bahasa program jadul dengan buku teks cetakan tahun 90an akhir. Ini juga membuat minat mahasiswa untuk belajar jadi jauh berkurang karena bahasa-bahasa tersebut sudah masuk tahap afkir alias gak ada ada yang pakai lagi di lingkup perusahaan,” demikian kata Syahmin.

Menariknya, apa yang digerakkan Syahmin bersama teman-teman di kampus ternyata punya pengalaman yang begitu seru disimak. Apa katanya?

“Berkaitan dengan tidak update kurikulum, pada tahun itu ketika saya menyusun skripsi tidak boleh ada penggunaan referensi dari sumber-sumber di internet atau sumber-sumber yang berupa softcopy. Padahal pada tahun itu Wikipedia saja sudah menjadi referensi wajib saya dan beberapa teman seangkatan. Kebayang bagaimana pontang-pantingnya kami harus mencari buku karangan Jogiyanto yang ketika itu menjadi “kitab suci” para dosen di kampus. Saya dan beberapa teman berusaha mendobrak tradisi kuno dan berhasil menjadikan sumber-sumber internet dan white paper sebagai referensi penulisan skripsi.

Kemudian untuk tema skripsi, ketika itu para dosen masih terpaku dengan program-program “kecil” seperti penjualan, penyewaan cd, dan lain-lain. Pada tahun itu pula saya dan teman-teman mendobrak tradisi itu dengan mengajukan skripsi bertemakan aplikasi berbasis web dan pembahasan mengenai jaringan komputer menggunakan Linux.”

Itulah sedikit cerita yang disebutkan Syahmin, dimana kampusnya tempat menimba ilmu juga tersebut dalam daftar di atas.

Hotspot area Taman Sari Banda Aceh

Ada juga orang-orang yang terlepas dari pendidikan IT, malah lebih memilih belajar untuk otodidak. Hal ini juga diakui oleh Monza Aulia, blogger dari Lhokseumawe. “Ga tau mau ngasih analisa apa, soalnya ane jadi programmer hasil belajar otodidak, ga ada sekolah2 IT,” akuinya.

Tidak hanya soal belajar otodidak, blogger Aceh yang berprofesi pengajar juga ikut ambil bagian mengulas topik ini, sebut saja Jurnalis Jh, ia mengaku di jaman yang serba canggih ini, mahasiswa IT tidak wajib menjadi programer.

“… tuntutan global memancing kita untuk lebih kreatif dan berfikir out of the box untuk bisa sukses, meski saya tidak menyangkal, bahwa hal tersebut sebenarnya sudah lari dari kondisi ideal dimana Kampus IT harusnya melahirkan tenaga IT, tapi di lapangan berbeda kondisinya. banyak tenaga IT yang jago saat ngampus, tapi tidak jadi programer saat kerja,” ungkapnya.

Berprofesi sebagai dosen, tentu Jurnalis juga pandangan soal mahasiswa-mahasiswa yang dibimbingnya. Berikut pengakuannya.

“Saya mendapatkan kesempatan mengajar dan membimbing di beberapa kampus IT di Banda Aceh, tentunya sebagai dosen saya tau karya mahasiswa mana yang asli dan yang dibuat oleh orang lain, semua mahasiswa yang akhirnya mengaku (dipaksa mengaku oleh saya) menjelaskan bahwa mereka memang tidak paham tentang TAnya, bahkan sebagian besar mengatakan judul TA itu dari yang buat TAnya.. jadi faktor mahasiswa malas pun menjadi satu penyebab.

terus, kalau mahasiswanya malas, yang salah dosennya dan kampusnya dong… untuk beberapa kasus, bisa saja benar, dosen dan kampus ikut bertanggung jawab terhadap kemalasan mahasiswa itu.. tapi bukankah jaman sekarang sudah sangat terbuka, dimana dosen dan kampus itu bukan satu-satunya tempat belajar, banyak literatur dan internet yang bisa menjadi mahasiswa untuk belajar, tidak menjadikan ruang kelas sebagai satu-satunya media belajar. jadi permasalahan masih di Mahasiswa.”

Disini memang sudah terlihat, kejelian dari seorang dosen dengan tugas-tugas yang dilakukan oleh mahasiswa akan begitu sangat terjangkau dalam jangkauan sebuah media pembelajaran.

Terakhir yang menurut saya juga menarik adalah apa yang dipaparkan oleh aktivis MIT, Teuku Farhan. Yakni membuat gerakan yang memang kongkrit untuk menstimulus programer di Aceh.

“Baiknya kawan2 programmer gerakkan ini skaligus bisa menghapus image buruk hacker di mata masyarakat awam dan hacker bukan smata soal jaringan, pdhal cracker skripsi/TA lebih banyak..hehe..,” sebutnya.

Tanpa berpanjang lebar, saya menemukan sebuah konklusi singkat, dari beragam macam jawaban dari diskusi ini terlihat dalam satu arah, yaitu pembenahan SDM. Baik itu mereka (baca programer) yang memang berprofesi lewat cara otodidak untuk belajar atau pun mereka (baca mahasiswa/i) yang jauh bukan bercita-cita sebagai programer.

Sehingga pada akhirnya, kita pun bisa memilah diantara banyak kesalahan yang harus dibenahi, institusi pendidikan yang masih belum up to date soal kurikulum dan pernak-perniknya, kemudian juga supply dan demand yang memunculkan proyek tugas akhir bagi mahasiswa, sampai dengan memantapkan pemahaman bagi masyarakat awam bahwa apa IT itu sebenarnya.

Jika ingin menambahkan atau teman-teman pembaca ingin berdikusi, jangan sungkan-sungkan untuk berkomentar ya.

Fenomena Lulusan IT di Aceh Itu Palsu?

19 thoughts on “Fenomena Lulusan IT di Aceh Itu Palsu?

  • August 20, 2014 at 14:38
    Permalink

    Lulusan IT tidak harus melulu jadi programmer. Bisa jadi network engineer, system engineer, desainer grafis, dsb. Menurut saya, topik lulusan yang TA-nya dibuat orang lain bukan masalah yang besar. Ini sudah lumrah terjadi, di mana-mana.

    Bagi saya, permasalahan pokoknya adalah Aceh kurang lapangan kerja di bidang IT. Jadi secara tidak langsung ini berdampak ke skill anak2 kuliah jurusan IT di Aceh.

    Reply
    • September 2, 2014 at 17:15
      Permalink

      Secara tidak langsung mereka yg punya keahlian IT harus ke provinsi tetangga atau mengadu nasib ke ibukota dan berujung mereka tak akan pulang lagi ke Aceh. Pelik ini.

      Reply
  • August 22, 2014 at 09:40
    Permalink

    menarik tulisannya bang Aulia Fitri 🙂

    Reply
  • August 22, 2014 at 09:50
    Permalink

    Padahal kemaren di jpnn ada di tulis mahasiswa yg bisa makmur dengan pekerjaan online-a.. 🙂

    Semoga kita ga selalu melihat pekerjaan offline sebagai pekerjaan utama dan pekerjaan online sebagai pekerjaan sampingan..

    Saya ingat quote dari teman "jangan cari pekerjaan, tp ciptakan pekerjaan"

    #IMHO

    Reply
    • September 2, 2014 at 17:22
      Permalink

      Quote super sekali ini, menciptakan memang butuh ide besar dari sekedar mencari 😀

      Reply
  • August 22, 2014 at 12:51
    Permalink

    setuju sekali….. tapi kenapa mereka tidak membuat skripsi yang benar2 mereka kuasai seperti yg anda bilang nework system engineer desain.. atau lainnya…
    tetepi dari segi fakta mereka yang khusus a di daerah aceh.. hanya2 orang ikut2-an.. mksudnya.. teman pilih jurusan teknik semua ikut.. karna teknik merupakan jurusan bagus.. dan bla bla dan bla.. fenomena ini lah yang membuat seseorang pada akhirnya TA mereka dikerjakan sama yg ahlinya… itu menurut pandangan aku… 🙂

    Reply
  • August 22, 2014 at 13:28
    Permalink

    keren untuk bagian quote nya aja.. 😀 😀

    Reply
  • August 24, 2014 at 20:07
    Permalink

    Menarik pembahasan dan tulisan bg Aulia 🙂 Menurut saya benar memang banyak faktor atas kondisi tsb. Kebetulan saya juga salah satu mahasiswa IT namun diluar daerah aka merantau. Yg saya lihat setahun belakangan ini semenjak saya mulai berkuliah ada beberapa mahasiswa yg masuk dalam kategori “salah jurusan”, ada yg tuntutan orang tua, ada yg salah penafsiran / pemahaman dengan jurusan yg ia pilih, ada juga yg ikut-ikutan. Jika sudah salah jurusan maka minat dan semangat belajar sudah hilang. Tingkat 1 yg notabennya merupakan tempat awal perkenalan terhadap jurusan tsb dan sebagai pondasi ataupun bekal utk melanjutkan ke tingkatan pembelajaran lebih tinggi nantinya. Jika dasarnya sudah “meu wet wet” tidak jelas maka untuk selanjutnya akan sangat susah mengikutinya. Mungkin itulah salah satu faktor munculnya “lulusan palsu” seperti tulisan diatas 🙂

    Mengenai bahasa pemograman yg “jadul” beberapa kampus memang menerapkannya hanya sebagai pengenalan tidak untuk diperdalam

    Reply
    • September 2, 2014 at 17:24
      Permalink

      Kondisi seperti yang Ridha bilang memang saya jumpai juga saat dulu kuliah, semua tipe itu ada. Maka tak heran mereka yg dicap “lulusan palsu” akan terjun dengan ide kreatif lain untuk menjadi kemampuan IT dalam bisnis dan ranah informasi lainnya 🙂

      Reply
  • September 25, 2014 at 09:11
    Permalink

    kok politeknik negeri lhokseumawe ngga masuk presentase,, hmm setau ane teknik informatika dan teknik multimedia dan jaringan di kampus politeknik ngga ada yang palsu makanya ga masuk presentase, karna menurut sumber yg bisa di percaya lulusan politeknik negeri lhokseumwe itu berkualitas , mereka tdk hanya melulu menguasai skill akademik yg sesuai dgn bidangnya tapi juga dibidang lain banyak yg mereka kuasai,mereka tdk hanya jadi programmer ataupun insyiur software tapi juga yg lain,, yg pasti kata sumber tersebut dgn displin ilmu yg di dapat dari kampus mereka siap di kerjakan di mana saja, termasuk berwirausaha,, jadi ngga semuanya juga palsu,, terimakasi,,

    Reply
  • October 21, 2014 at 06:05
    Permalink

    kurangnya peluang kerja it di aceh jg karena kurangnya perusahaan disana. khususnya perusahaan yang menghasilkan produk/barang, jika banyak maka dengan sendirinya lowongan di IT untuk membantu sistem akan banyak.

    menurut saya, menciptakan lapangan kerja/tersedia lapangan kerja lebih penting daripada membahas mahasiswa menyuruh jasa pembuat program. menurut saya mereka akan giat dengan sendirinya belajar menekuni kalau mereka bekerja dan digaji. coba kalau dosen ngegaji mahasiswa yg bikin skripsi. dijamin itu mahasiswa jg akan rajin belajarnya. masalahnya bisa gak dosen gaji mahasiswa??? itu dia!

    Reply
  • November 2, 2014 at 04:01
    Permalink

    Sepertinya tulisannya menarik, panjang banget gak sempat baca. nanti kapan2 ane baca 😉

    Reply
  • November 25, 2014 at 18:54
    Permalink

    Saya sndrii sangat pengen jadii programmer bang, walaupun msih semester 3 jurusan TI tapii saya telah byak bljar drii grup2 fb yang membagikan bnyak tutor pemograman, semoga saja kedepannya lulusan IT di aceh bisa membangun aceh, tidak hnya memanipulasi program drii org lain ! 🙂

    Reply
  • November 27, 2014 at 01:48
    Permalink

    Menurut Saya, untuk mencegah mavia TA/Skripsi salah satunya adalah dengan menyediakan pekerjaan yang layak untuk sipembuat skripsi/TA, sehingga tidak lagi tergiur rayuan maut (uang) dari para mahasiswa….. 🙂

    Reply
  • November 27, 2014 at 04:07
    Permalink

    intinya bukan tidak bisa tapi tidak ada kemauan baik untuk belajar maupun diajar, kuliah hanya sebatan ijazah saja, itu pengalaman saya sebagai guru dan juga pernah menjadi dosen.
    tingkat kemauan antara siswa SMK dengan anak kuliahan jauh berbeda yg mana seharusnya mahasiswa lebih aktif ketimbang siswa namun y begitulah kuliah hanya sebatas selembar ijazah bukan skill yang dicari.

    Reply
  • June 28, 2017 at 23:36
    Permalink

    saya sendiri lulusan IT Unsil tahun 2014, dan saya akui jika membuat TA/tugas akhir itu dari jasa skripsi. dan dosen pun tidak terlalu marah 😀

    Reply

Leave a Reply